Menghafal Qur’an!
Suatu pagi ba’da shubuh sang Ustadz menghenyak pikiran dan perasaan mereka, sehingga mata mereka terbelalak melompat dari rasa kantuknya..
“1. Yang bilang Quran dijadikan mudah tuk dipelajari-diingat adalah Zat yang menciptakan isi kepala dan hatimu. Jaminan itu datang dari-Nya, yang lebih mengetahui kapasitas kepala-hatimu.
2. Apakah Quran diturunkan hanya bagi mereka yang lapang waktunya? Apakah kemudahan itu tidak berlaku bagi mereka yang aktivitasnya terhitung ‘padat’? Saya ulangi, apakah kemudahan itu tidak berlaku bagi mereka yang padat aktivitasnya?
3. Apakah Quran dimudahkan bagi mereka yang duduk di bangku pesantren saja? Dimudahkan bagi para santri dan calon ‘ustadz’ saja? adakah pengkhususan sperti ini di ayat tadi? Jawab oleh hatimu.
4. Kalian sering mengeluhkan sulitnya mengikat Quran, meski kalian sudah meluangkan waktu setiap ba’da isya dan shubuh. Di lain waktu tanpa kalian sadari kalian bisa menghafal setengah halaman kurang dari 30 menit. Bukankah ini pertanda bahwa lapangnya waktu independen terhadap jumlah ayat yang bisa diikat?
5. 2-3 jam dalam sehari itu sudah sangat cukup. Tinggal kalian atur volume hati. Janganlah berputus asa. Bergembiralah, Quran ini dijadikan mudah bagi siapapun, yang berprofesi apapun, untuk kepadatan aktivitasnya yang bermacam, asal ia membuka hatinya kemudian mengucap ‘selamat datang’ kepada Quran.
6. Mungkin kita terlambat, usia sudah kepala dua, tetapi hafalan masih segitu-gitu saja. Pantas Quran belum menghentak hidup kita. Mungkin setiap ayatnya belum merasuk ke dalam hati kita. Tetapi, bukan berarti tidak mungkin, kan?
7. Yang penting kita punya habit itu, habit menghafalkannya. Karena orang yang menghafalkannya akan mempunyai intensitas interaksi terhadap Quran yang lebih tinggi daripada yang belum menghafalkannya. Shalat malamnya akan lebih nikmat. Waktu lebih berkah, insya Allah..
8. Dari situ, insya Allah, ketika berkeluarga nanti kalian akan membangun keluarga Qurani. Jangan sia-siakan masa kecil anak kalian, karena itu adalah usia emas untuk menanamkan Quran ke dalam dirinya. Sehingga Quran mendarah daging dan menjadi akhlaqnya.”
Semangat menghafal Quran! Tidak ada kata terlambat. Apalagi kalo terlambatnya bisa bareng-bareng kayak di generasi kita, seru. Dan jangan biarkan generasi anak-cucu kita mendapat nasib yang sama dengan kita.
-Dari grup i5-
#superOFFENSIVE!




