Kilas Balik Paska Kampus (2): Bahagia!

“Kebahagiaan hakiki adalah ketika kita terkoneksi dengan Allah! Dimana salah satu cirinya adalah apabila keinginan kita sejalan dengan takdir Allah..

“Ketika kita ingin masuk kampus ini, kita ditakdirkan Allah masuk ke kampus tersebut..Ketika kita ingin bekerja di perusahaan ini dengan gaji segini, Allah takdirkan kita bekerja disana..Ketika kita ingin berjodoh dengan ikhwan/akhwat ini, maka Allah jodohkan kita dengannya..”

“Dan orang-orang yang terkoneksi dengan Allah, bila apa yang ia citakan tidak baik dimata Allah, maka dengan sangat halus, Allah akan belokkan keinginan kita dengan indah, lahirkan rasa nyaman, bahagia itu, sesuai dengan apa yang Ia takdirkan pada kita. Inception.”

Deg! Nasihat Pak Deddy Nordiawan saat kultum di kantor Badr Interactive Ramadhan lalu terasa telak sekali saat itu. Nasihat tersebut secara refleks meletupkan memori-memori itu kembali..

Read More

Kilas Balik Paska Kampus (1) : Bersyukur

“Mari kita sambut perwakilan sambutan wisudawan, Saipul!”

Tepuk tangan dan suara wisudawan dan para undangan menggemuruh saat itu. Saipul yang awalnya duduk santai-santai saja dengan toganya, mendadak panik. Sejak awal dia memang tidak mengira mendapatkan kehormatan ini, karena banyak rekan satu angkatannya yang sebenarnya jauh lebih pantas dibanding dirinya. Dari Si A yang kemarin saat wisuda UI di Balairung didaulat menjadi IPK tertinggi se-UI. Atau Si B yang menjadi mahasiswa berprestasi Fasilkom UI tahun ini bahkan menduduki peringkat 4 di tingkat UI. Atau rasanya orang-orang lebih ingin mendengar orasi si C yang dulu menjadi ketua BEM Fasilkom UI di masanya. Atau si D yang Abang Jakarta, si E yang juara ini juara itu, atau rekan-rekan wisudawan lainnya yang jauh lebih prestatif darinya. Sedangkan dia? Bukan siapa-siapa.. Yaa, namun apa daya, nasi pun sudah menjadi bubur, mari kita buat sekalian bubur ayamnya. Begitu kata Aa Gym.

Saipul menghela nafas panjang, berdiri, dan dengan gontai melangkah menuju podium. Ia berhenti sebentar sembari menunduk memberi hormat pada para dosen di depan serta para wisudawan yang lain, dan ia pun melanjutkan langkahnya kembali menuju di podium.

Okeh..tenang…Ini tidak ada bedanya dengan sambutan lainnya. Jaga intonasi, jangan panik, dan yang terpenting jaga tahan kecepatan bicara. Fyuuh, bismillahirrahmanirrahim.” Katanya dalam hati.

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Terdengar sayup-sayup namun lantang suara hadirin menjawab salamnya. Dilanjutkanlah dengan memberikan sapaaan kepada para undangan, terimakasih kepada para dosen serta rekan-rekan wisudawan yang telah bersedia untuk diwakilkan olehnya..bla..bla..bla. Selesai. Satu menit berjalan, tiba-tiba pikirannya buntu.

Mau ngomong apaan lagi ya?

Ia memang terbiasa berbicara spontan dan kali ini tidak biasanya dia buntu, tak sedikitpun kata-kata yang terbesit. Tetiba, ia menoleh kebelakang, melihat tulisan latar dari acara ini. “Syukuran dan Pelepasan Wisudawan Fakultas Ilmu Komputer UI 2011″ 

Syukur..oh iya syukur!

Dan sebuah ide pun menjalar di otaknya.

Jadi hari ini kita menghadiri suatu acara yang berjudul ‘Syukuran dan Pelepasan Wisudawan Fakultas Ilmu Komputer UI 2011′. Ya, ternyata ada sebuah kata menarik disana. Syukur. Saya pikir kata ini memiliki makna yang mendalam dan dapat direfleksikan sejenak bersama.

Berbicara tentang syukur, dalam pikiran saya selalu tidak dapat lepas dari sesosok orang yang saya yakin kita kenal bersama. Salah seorang satpam Fasilkom UI, namun izinkan saya tidak menyebutkan namanya untuk menjaga keikhlasannya. Namun sungguh saya belajar makna syukur yang sebenar-benarnya dari beliau..

Saya yakin teman-teman akan sepakat dengan saya, Bapak yang satu ini adalah bapak yang sangat ceria, tampak tenang, tanpa beban, setidaknya itu terpancar dari senyumnya setiap kali saya menyapanya. Kebetulan tempat tinggal kami berdekatan dan kami selalu shalat di masjid yang sama, Masjid Mardotillah di Srengseng Sawah. Dan yang saya kagumi dari beliau, setiap kali saya ke masjid, selalu saya menemukan beliau dalam kondisi siap dan berada di rakaat pertama! Tak pernah saya melihat beliau tertinggal jama’ah rakaat pertama. Dan dahsyatnya lagi, selesai shalat beliau tidak pernah terlihat beranjak dari tempat duduknya sebelum imam selesai berdoa hingga selesai. Beda banget mah sama kita-kita yang abis salam, dzikir bentar, doa sekelebatan, dan langsung ngacir..hehe.

Saat itu saya sengaja nungguin beliau dibelakang, ceritanya ingin mampir ke rumah beliau buat nyicipin jajan lebaran. Dan ternyata beliau menyambut dengan hangat, singkat cerita kami berdua pun berjalan menuju rumahnya..

Sesampai disana, saya menemukan pemandangan mengejutkan. Ada seorang anak perempuan, berumur sekitar 6 hingga 8 tahun mungkin. Ia berlari menuju saya kemudian jatuh. Berdiri kembali kemudian jatuh lagi. Begitu seterusnya. Saya yang tidak sampai hati pun menyambut tangannya yang ternyata ingin mencium tangan saya.

Wah iya Pul, mohon maap ya..ini anak saya yang paling kecil. Dia suka jatuh-jatuhan karena emang dia gak bisa ngelihat. Dia tuna netra. Hehe..tapi gapapa kok, ayo adek masuk rumah yaa..” Beliau tersenyum kembali sambil melakukan gerakan lembut membelai anaknya. Lalu mengajaknya masuk kedalam rumah.

Allah..Terpaku hati saya seketika. Rencana silaturrahim yang awalnya ingin happy-happy, ternyata tidak seceria yang dibayangkan. Satu fakta yang saya temukan saat itu, membuat saya makin mengagumi beliau..

Ayo Pul masuk aja, saya ke dapur dulu ya..” Beliau pun masuk menuju dapur. Perlahan saya masuk ke rumah beliau, saya melihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang berbaring di ranjang di ruang tamu tersebut. Saya pikir beliau istri si Bapak. Sehingga saya layangkan salam lah kepadanya.

Assalamu’alaykum ibu..

Sepi, tidak ada jawaban sama sekali. Saya pun mengulangnya, dua kali, tiga kali dengan nada yang sedikit lebih tinggi, tak ada perubahan sama sekali, sang ibu sama sekali tidak bergeming.

Sang Bapak Satpam pun keluar lagi kemudian langsung menjawab, “Wa’alaykumsalaaam..aduh iya Pul, maaf ya tadi istri saya gak ngejawab, istri saya lagi sakit soalnya, sakit stroke, hampir semua syarafnya motorik mati, jadi ga bisa jalan, berdiri, bahkan untuk ngomong juga gak bisa..Hehe..Gitu deh..yaude silahkan duduk Pul.” Dan beliau pun tersenyum kembali.

Allah…Tak terasa bulir-bulir air mata saya pun mulai menggenang. Betapa berat cobaan beliau ternyata, dibalik semua senyum cerianya selama ini.

Saya pun semua duduk, sang Bapak mempersilahkan saya untuk mencoba beberapa kue lebaran yang masih tersisa di mejanya. Sebenarnya sudah hampir tidak berselera kembali, namun untuk menghormati beliau saya pun mengambil satu dua kue yang terdekat.

Jadi gimana Pak ceritanya kok bisa istrinya sakit begitu?

Iya Pul jadi si Buyung kan sekolahnya gak bisa sekolah yang biasa tuh, jadi dia masuk SLB yang tempatnya jauh banget, Lebak Bulus masih sonooo lagi..Nah karena saya kudu jaga di fakultas, jadi yang sering nganter jemput istri..Sampai suatu ari, istri jatoh Pul, mungkin karena kecapekan, langsung muncul gejala stroke..Sempet dirawat di rumah sakit seminggu, pas uda agak baekan dibawa pulang lagi..Abis itu nganter-ngater si Buyung lagi..eh dua minggu kemudian apa ya jatoh lagi Pul, udah abis itu kayak gitu, gak bisa ngapa-ngapain lagi..

Teriris sejatinya hati saya mendengar penuturan beliau. Dengan profesinya saat ini, dengan kondisi keluarga yang demikian, pasti sangat berat sekali beban hidupnya.

Terus..Pak, gimana jadinya…?” Pertanyaan saya yang terakhir ini agak bergetar. Sang Bapak tampaknya menangkap maksud pertanyaan saya. Dia pun tersenyum.

Gimana..gimana yaa? Yaa..kalo kite mah Pul, bersyukur ajaa..apa yang Allah kasih ke kite, ya kita terima baek-baek kita syukuri, insya Allah ini yang terbaek dan pasti ada hikmah dibalik itu semua itu.” Dan senyumnya pun kembali merekah..

Ceees. Ada rasa sejuk yang tiba-tiba merasuk di hati saya saat itu. Nasihat terbaik tentang syukur yang pernah saya dengar! Nasihat syukur yang muncul bukan dari seorang motivator sekelas Mario Teguh atau trainer-trainer lainnya, namun ini murni keluar dari mulut seorang yang diuji sedemikian hebatnya oleh Allah.

Bersyukur Pul! Ya, bersyukur!

Luarbiasa rekan-rekan..sekarang saya tanya, kira-kira saat sang Bapak ini menikahi istrinya dulu, kira-kira beliau berharap gak, atau punya bayangan gak, punya anak yang tunanetra, istri yang lumpuh total, kira-kira berharap begitu gak?

Tentu, tidak..Semua pasti berharap semuanya baik-baik saja, semua punya istri yang sehat, anak yang baik dan normal..Namun harus kita sadari bahwa banyak hal yang kita harapkan, kita doakan, tapi tidak semua sesuai dengan ekspektasi awal kita.

Dan saya pikir mirip sekali dengan kondisi kita hari ini. Mungkin dulu ketika awal pertama kali kita masuk Fasilkom, sejuta mimpi telah kita canangkan, sejuta harapan telah layangkan, namun setelah memasukinya, ternyata semua tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan..Pada akhirnya kita menyesali diri kita sendiri, berlari dari kenyataan yang seharusnya kita hadapi, menyia-nyiakan apa-apa yang seharusnya kita syukuri..

Cihuuy, Saipul mulai tenang dan ia pun menutupnya dengan mantap.

Sekarang kita telah menjadi wisudawan teman-teman. Jalan panjang menanti kita di depan namun tidak ada kata terlambat untuk mensyukuri nikmat ini..Hidupkan kembali mimpi kita. Rancang kembali masa depan kita, dan rencanakan kontribusi apa yang dapat kita lakukan untuk agama, bangsa, dan negara yang kita cintai ini..

Terimakasih atas kesempatan yang diberikan. See you on the top! Sampai jumpa di puncak kesuksesan rekan-rekan semua.

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

***

Tujuh belas september dua ribu sebelas, tepat satu tahun satu bulan yang lalu. Memori itu masih teringat jelas diingatan Saipul. Rasanya itu jawaban pertama atas semua kebimbangannya hari ini, paska satu tahun kelulusannya menjalani kehidupan paska kampus yang sebenarnya. Amanah yang dikerjakannya sekarang, kondisi finansial yang menghambatnya, serta semua pikiran-pikirannya selama ini. Bersyukur..

Mensyukuri apa yang telah ia dapati, memaknai kembali setiap jengkal nikmat yang Allah berikan kepadanya selama ini..

Ya, Saipul aja uda sadar, lalu kamu Big?

not what you get, but what you become

Kalimat itu sesuatu banget. It rang a bell. Diucapkan oleh dosen Data Mining di kelas sore tadi saat lagi bahas tugas. Katanya, kerjakanlah sebaik-baiknya. Gak ada ruginya bekerja keras dalam kebaikan, akan kembali lagi ke pelakunya. Namun, mungkin bentuknya bukan apa yang kita dapatkan, tapi menjadi apa kita karenanya. Setelah kerja keras, mungkin kita gak selalu dapet nilai bagus. Tapi setelah kerja keras, diri kita pasti telah terbentuk menjadi pribadi yang lebih baik, yang terbiasa bekerja keras, disiplin, siap berkorban, lebih kuat, dan sebagainya.

”..it’s not about what you get, but what you become.”

Makanya, Allah itu kan gak menilai hasilnya ya, tapi prosesnya. Kita udah berusaha, udah berdo’a tapi ternyata hasilnya gak seperti yang diharapkan, ya udah, itu yang terbaik. Untungnya kita gak dinilai dengan itu. Tapi setelah ada ketetapan Allah itu, apakah kita jadi ridho, tetap bersyukur dan bersabar? Nah mungkin itulah yang dinilaiNya.


sumber : blog Ka Hening

***

Selalu suka sangat dengan tulisan ini!
Yap, tak ada ruginya bekerja keras dalam kebaikan, insya Allah. :)

Ngeributin anggapan orang ?! Cape deh..

“Jadi siapakah yang memindahkan singgasana Nabi Sulaiman tidak lebih dari sekedipan mata, dewan juri ?” tanya MC lomba cerdas tangkas agama Islam di asrama suatu perguruan tinggi ternama di Depok.

“Ya, jawabannya belum ada yang tepat, yang benar adalah orang yang berilmu.” Begitu kurang lebih jawaban Saipul ketika menjadi dewan juri di acara tersebut.

Ternyata, salah seorang peserta ikhwan tidak terima.

“Maaf kakak dewan juri, kalau jawaban seperti itu kami tidak dapat menerima. Kami butuh namanya, karena saya pernah membaca pada tafsir lalala disebutkan lalala…”, jawaban salah seorang peserta ikhwan dengan lantang. Jantung Saipul saat itu berdegup dan kembali melihat pada kunci jawaban yang diberikan panitia dan jawabannya memang itu, hanya orang yang berilmu. Titik.

Itu hanya satu dari sekian banyak pertanyaan yang sempat membuat Saipul dan seorang juri lainnya hanya bisa mengangkat alis alias kebingungan. Ya, mau bagaimana lagi yang ditanya sama sekali tidak lebih tahu dari yang bertanya. Saipul merasa malu, karena dengan kapasitas ia sebagai juri seharusnya ia bisa memberikan penjelasan, tapi ya apa mau dikata ia memang tidak tahu, dari pada mati gaya karena sotoy, ia memilih diam. Seketika ia merasa harga dirinya jatuh, image seorang ikhwan yang selama ini melekat pada dirinya serasa runtuh seketika. Ia takut pandangan orang tentang dirinya jadi turun..

Beruntung ia segera sadar. Ia ingat pernah membaca suatu tausiyah singkat Aa’ Gym dari sebuah blog,

ANGGAPAN ORANG LAIN ITU SAMA SEKALI TIDAK MENAMBAH MAUPUN MENGURANGI KEMULIAAN KITA

Kalo orang nganggep kita alim, emang kita tambah alim gitu ? belum tentu juga amalan kita diterima..

Kalo orang nganggep kita pinter, emang kepinteran kita nambah yak ?

Pun kalo kita dianggep bodoh, IQ kite tetep segitu-gitu aja kan kagak berkurang ?

Kalo kita dianggep kaya, miskin, ganteng, bodong, mantap, apapun lah ya..kagak ada ngaruh-ngaruhnya kan ma kite ?


Cihui ! Dan akhirnya dia lebih tenang dan melanjutkan tugasnya kembali. Setidaknya untuk beberapa hal yang memang dia benar-benar tidak tahu dia dengan lantang menjawab, “Tidak tahu namun dalam kunci jawaban dari panitia…” Dia sudah tidak malu lagi mengungkapkan hal itu karena dia yakin anggapan Allah terhadap dia pas dihisab jauh lebih pantes dipikirin daripada cuma kelihatan sok ganteng atau sok alim bentar doang..

Alhamdulillah…Saipul pun sadar. Lalu kamu Big ? :)

Doa di Penghujung Ramadhan

From amongst the signs of Laylatul-Qadar is that it is a calm night and the believer’s heart is delighted and at peace with it, and he becomes active in doing good actions, and the sun on the following morning rises clearly without any rays.

Postingan tumblr yang saya baca tadi tentang ciri-ciri malam Lailatul Qadar, mengingatkan saya akan malam dan pagi 27 Ramadhan kemarin. Entah pagi itu terasa damai sangat, pagi cerah sekali tidak seperti biasanya. Pulang perjalanan dari Elnusa juga sangat lancar, tidak sepadat biasanya. Hati ini tersentak,

Apakah benar kemarin turun malam yang disebut-sebut di Al Qur’an, lebih baik dari seribu bulan itu?

Semakin meyakini kebenaran firasat tersebut, membuat saya semakin gelisah. Mengingat-mengingat kembali yang terjadi semalam yang berjalan dengan tidak optimal. Badan yang kurang fit malam itu, ditambah acara dorong motor dua kali bersama Jay karena ban motor bocor dan kehabisan bensin. Sampai masjid Elnusa, rasanya ingin segera merebahkan diri saja, akhirnya tilawahpun dikebut-kebut agar bisa cepat istirahat. Bangun, mengikuti qiyamul lail juga tidak senikmat biasanya, bahkan baru menginjak raka’at ke-3 kaki sudah gemetaran. Memasuki raka’at ke-7, sudah ingin mundur teratur saja ke belakang, namun sayang sekali posisi tidak mendukung karena berada tepat ditengah shaf kedua dibelakang imam. QL pun dilanjutkan dengan berat hati dan yang paling parah di bagian muhasabah, akhirnya tak tertahankan lagi, fiks, saya terlelap saat itu bahkan hingga jam empat lewat lima belas menit. Beruntung ada jama’ah yang membangunkan untuk makan sahur. Sesampai di rumah, kepala semakin berat dan ending-nya pun tertebak, badan ini pun merebah kembali hingga menjelang siang..

Benarkah malam Lailatul Qadar itu sudah terlewat?

Tidak ada yang tahu pasti jelas. Yang jelas, malam itu sama sekali tidak ada hal bisa dibanggakan. Yang tersisa hanya penyesalan dan penyesalan tak terhingga, karena belum tentu Allah masih berikan kesempatan memburunya kembali di tahun-tahun mendatang.

Namun, syukur alhamdulillah, dapat menemukan artikel ini dari seorang saudara, tentang pinta yang tulus dan sederhana. Maka, di sisa detik-detik Ramadhan-Mu ini ya Allah, pinta hamba sederhana,

"Allah, tentang segala pinta itu, berlipatnya pahala, rahmat, ampunan dari Mu, atau bahkan Lailatul Qadar sekalipun..lupakan saja ya Allah. Cukup ridho-Mu saja atas semua ibadah hamba dan dua hari tersisa yang akan hamba jalani kedepan. Ya, Engkau ridho saja itu sudah lebih dari cukup.”


NB : Mari para i’tikaf-ers amatiran seperti saya atau yang gak i’tikaf pun, mari menjemput ridho Allah di masjid, di rumah, di kereta, di bus, dimanapun kita berada. Mari nikmati detik-detik sajian terakhir Ramadhan yang Allah berikan kepada kita! :)

Tak henti-hentinya tergetar melihat video rekaman acara Chating dengan YM bersama Ust. Yusuf Mansur bertema “Anak Investasi Akhirat”.

Buat yang gak males buffering sampe habis, minimal lihat tiga menit pertama ketika Habib baca ayat super jleb, surat Al Mu’minuun 1-11. Dengerin baek-baek, sambil baca artinya dibagian bawahnya. Syarat jadi seorang mu’min, the true believers, orang bener, yang dijamin syurga Firdaus sama Allah. Uda sering denger tapi tetep aja nampol kalau direnungkan dan direfleksikan dengan diri kita sendiri..

1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,

3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,

5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

7. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

9. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.

10.Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,

11.(yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.


Allah… T.T

One of the best scene in Naruto when Shikamaru is trapped and almost die, instead of freaking out he starts musing about his future..

"Be an ordinary*. Such a cool, isn’t it?" :)

*ordinary dalam arti hidup simpel, sederhana, tidak harus kaya nan bergelimang harta, namun tetap menebar manfaat ya! :D

One of the best scene in Naruto when Shikamaru is trapped and almost die, instead of freaking out he starts musing about his future..

"Be an ordinary*. Such a cool, isn’t it?" :)

*ordinary dalam arti hidup simpel, sederhana, tidak harus kaya nan bergelimang harta, namun tetap menebar manfaat ya! :D

Kalo sudah niat dan sempurnakan ikhtiar, tak penting keinginan kita tercapai atau tidak, yang penting yang terbaik menurut Allah saja.

Aa Gym

Meragukan keindahan skenario Allah adalah kesombongan yang sangat, merasa diri paling tau yang terbaik,

Padahal jelas, tak ada lagi yang menginginkan kebaikan dan keselamatan kita selain Dia, Allah yang Maha Baik..

Allah, ampunilah kepicikan hati ini yang seringkali tak mampu melihat rahasia-Mu..

other news is designed by manasto jones, powered by tumblr and best viewed with safari.