Tips Belajar Para Aktivis !

Akhir-akhir ini saya sedang kasmaran. Yak, saya sedang jatuh cinta *mungkin lebih tepatnya terpaksa jatuh cinta* kepada kuliah ! Badai UTS sedang menghadang para Fasilkom-ers, ya, saya memahami perasaan kalian kawan..

Sebenarnya terkadang saya masih merasa ragu untuk belajar Aljabar Linier, Basis Data, dan makhluk-makhluk lainnya itu karena ada pendapat yang mengatakan kuliah-kuliah tersebut HARAM ! Tau gak dalil nya apa ?

‘..sesungguhnya semua yang memabukkan itu haram..’

*tafsir gaya bebas, DILARANG KERAS untuk mengutip! :D

Btw, saya ingin membagi tips belajar yang pernah saya dapatkan dulu dari seorang aktivis yang sudah saya ubek-ubek tentunya. Walaupun saya bukan aktivis, tapi lumayan membantu juga menyiasati jadwal belajar ditengah kesibukan syuting dan pemotretan saya.. :)

1. Belajar di sepertiga malam dan sepertiga pagi

Nih paling pas buat para aktivis yang suka jadi pengacara (baca: pengangguran banyak acara) yang sering keliaran waktu sore dan malam. Solusinya belajar sebelum subuh dan setelah subuh, sekitar jam 3 sampai jam setengah 7.

Ngantuk! jadi malah gak bisa belajar,begitu rata-rata kata orang. Tapi justru dari teori yang pernah saya dengar *tolong dikoreksi ya kalau salah*, kabarnya tingkat kesadaran kita dibagi menjadi beberapa bagian. Pertama fase beta kalau tidak salah, itu fase orang sadar dari yang paling sadar, bila anda sedang membaca tulisan ini berarti anda sedang dalam fase ini. Selanjutnya fase alfa, fase orang agak setengah sadar, kira-kira semacam orang baru bangun tidur, dan sebagainya. Nah, dalam penelitian ternyata fase alfa itu paling baik dalam belajar, karena otak kanan kita yang suka nganeh yang sering kali mendominasi melebihi otak kiri masih belum tune-in, maka bakal lebih cepet ngerti soalnya otak kiri kita bisa lebih konsen gitu katanya. Apalagi saat-saat sepagi itu menikmati hangatnya sinar rembulan ditemani oleh slide dan diktat tercinta. (nah lo?!).

Supaya ‘panas’-an alias gak ngatuk-ngantuk banget, untuk yang muslim bisa sholat malam dulu plus tilawah (baca Al-Qur’an). Yang tidak atau sedang berhalangan bisa joged-joged dulu lah. :)

2. Belajar dikit-dikit

Ini bukannya menganut faham sekuler, ‘sedikit belajar sedikit lupa, banyak belajar banyak lupa’, tidak sama sekali ! :D

Bagi para aktivis yang sangat padat waktunya, bisa memanfaatkan waktu senggang mereka untuk membaca materi nya. Baca sedikit saja, satu halaman atau satu paragraf juga lumayan, tapi baca sampai ngerti. Cukup 10-15 menit saja. Lumayan kan nyicil dikit-dikit ? Efektif banget lho kalau dipraktekkan.

3. Berkumpullah dengan orang pinter !

Kalau dalam lagu obat hati-nya Opick kita disuruh berkumpul dengan orang soleh, maka mari kita berkumpul dengan orang pinter! Eit, bukan dukun lho ya ! :)

Alhamdulillah saya selalu dikelilingi orang-orang hebat dan lebih prestatif dari saya, termasuk dalam hal akademis. Ada Topan si raja kodingan, Hafidh si master dalam urusan ngitung, Fajar yang hafalannya luar biasa, Jay si cerdas plus catetannya yang memuat semua kalimat yang pernah terlontar dari dosen, Alvis, Wahyu, semua orang anak Fasilkom emang dahsyat! Serius, ini sangat membantu !

4. Lakukan apa yang biasa mahasiswa lain lakukan

Ya, sesibuk apapun seharusnya masih disempatkanlah untuk membaca setiap diktat, membuat mind map nya, tanya dengan yang sudah baca, dan yang menjadi favorit saya, lari ke Senyum (baca:tempat fotokopian di Fasilkom), dan bila beruntung maka akan mendapatkan paket eksklusif seperangkat soal UTS tahun lalu yang tentunya harus dibayar TUNAI ! :D

5. Do’a dong !

Ini memang sudah biasa namun tetap paling utama. Dan dalam agama saya disebutkan dalam salah satu firman-Nya :

“Wattaqu’llah wa yu’allimukumu’llah” (..dan bertaqwalah kamu kepada ALLAH dan nanti ALLAH akan ajarkan kamu/QS. 2:282)

Apalagi kalau dipraktekkan pas di sepertiga malam sebelum belajar, mantab pisan lah !

Tips diatas memang bukan hal yang baru namun semoga dapat memompa kembali semangat belajar kita. Lebih enak lagi kalau setiap kuliah kita memperhatikan Bapak/Ibu dosen dengan seksama niscaya bakal lebih mantab lagi ! Demi IP yang lebih baik, mengapa tidak ? :)

Ya, walaupun IP bukan segalanya, tapi punya IP bagus gak jelek-jelek amat kan ?

Jadi inget kata seorang teman, Dwiki, anak Teknik, pinter gak pinter itu tidak masalah, masing-masing insya Allah bisa sukses kok, namun yang pasti orang pinter punya lebih banyak pilihan. Logikanya, waktu kita SPMB, UMB, SNMPTN, SIMAK atau apapun itu namanya, bila kita punya nilai yang baik tentu kita lebih punya banyak pilihan kan, masuk FK bisa, STEI juga bisa, mau masuk STAN bahkan melanjutkan ke luar bagi orang pinter bukan hal yang masalah. Sayangnya orang yang kurang rajin tidak akan punya pilihan sebanyak itu.

Ya, itu doang kok bedanya. Tapi lumayan kan bisa punya banyak pilihan, lebih punya banyak pilihan untuk menentukan masa depan bahkan mungkin sampai lebih punya banyak pilihan untuk meminang sang belahan hati ? *kira-kira ada wanita yang punya syarat IP buat dambaan hatinya gak ya? haha..iseng! :D*

Yak, IP tinggi ?!? Siapa takut ! :D

***

Hehe, tulisan kocak jaman-jaman kuliahan dulu. Mungkin bermanfaat buat yang lagi musim UTS-UTS an :)

Just simply remember what your favourite things!

Terlalu banyak alasan yang bisa membuat kita bersedih, bête, nangis sampai berguling-guling, iya gak sih ? Termasuk saya. Tapi ternyata juga banyak lho hal yang bisa membuat kita tersenyum, ya, setidaknya saat kita sedang ngerasa tidak begitu baik, itu sangat membantu ! :D

Ya, kapan hari saya nemu postingan salah satu senior mantap di UI, Mbak Heggy . Beliau anak Psikologi. Satu tips praktis kata beliau, Just remember what your simply favourite things ! Langsung saya berfikir, apa yang bisa membuat saya bergairah, senyum-senyum sendiri, jadi lincah gak karuan ?

Hmm..saya suka bubur ayam, walaupun saya ga demen karena uda tau rasanya begitu-begitu aja tapi masih suka beli *bukannya itu yang namanya demen ya ?* , suka liat Jupiter-nya Topan apalagi kalo lagi jejer ma Mio-nya Maya *piss..pan no offense, tapi ane bener2 seneng ngeliatnya, lucu ! :D* , komputer lab dan belom ada yang login, lontong balap Peneleh yang pedes, seperangkat alat syuro siap pakai, jaket dua delapannya Apid, keluarga ikhwah yang lagi jalan-jalan ma anaknya yang minta ditampol, laptop sejuta umat dengan password mataharipagi, karcis kereta ekonomi dengan jatah tempat duduk, jaket forkat, gazebo asrama, kornet dan selada yang ‘dikempit’ roti tawar yang dulu jadi kado ulang tahun saya kelas 4 SD pas pengen banget burger, denger Arif atau Rully tilawah,  sekretariat OSIS Smala (minus ruangan MPK yang berhantu), Uswah, slayer PERISAI, bola voli, sekre, orang jual mainan bocah, blog saya #lho, hijau, tas butut hitam kesayangan, dan tidur di kelas. #ups

Yah, maaf bila banyak ‘bahasa lokal’  disana yang banyak tidak difahami, itu contohnya kalau saya yang membuat list barang fave kita. Setidaknya, when I feeling sad, I simply remember my favourite things. And then I don’t feel so bad. :)

Selamat mencoba ! :D

***

Wah, dulu saya orangnya ceria sekali ya? Tips yang tepat sekali untuk kondisi hari ini.. :)

Ngeributin anggapan orang ?! Cape deh..

“Jadi siapakah yang memindahkan singgasana Nabi Sulaiman tidak lebih dari sekedipan mata, dewan juri ?” tanya MC lomba cerdas tangkas agama Islam di asrama suatu perguruan tinggi ternama di Depok.

“Ya, jawabannya belum ada yang tepat, yang benar adalah orang yang berilmu.” Begitu kurang lebih jawaban Saipul ketika menjadi dewan juri di acara tersebut.

Ternyata, salah seorang peserta ikhwan tidak terima.

“Maaf kakak dewan juri, kalau jawaban seperti itu kami tidak dapat menerima. Kami butuh namanya, karena saya pernah membaca pada tafsir lalala disebutkan lalala…”, jawaban salah seorang peserta ikhwan dengan lantang. Jantung Saipul saat itu berdegup dan kembali melihat pada kunci jawaban yang diberikan panitia dan jawabannya memang itu, hanya orang yang berilmu. Titik.

Itu hanya satu dari sekian banyak pertanyaan yang sempat membuat Saipul dan seorang juri lainnya hanya bisa mengangkat alis alias kebingungan. Ya, mau bagaimana lagi yang ditanya sama sekali tidak lebih tahu dari yang bertanya. Saipul merasa malu, karena dengan kapasitas ia sebagai juri seharusnya ia bisa memberikan penjelasan, tapi ya apa mau dikata ia memang tidak tahu, dari pada mati gaya karena sotoy, ia memilih diam. Seketika ia merasa harga dirinya jatuh, image seorang ikhwan yang selama ini melekat pada dirinya serasa runtuh seketika. Ia takut pandangan orang tentang dirinya jadi turun..

Beruntung ia segera sadar. Ia ingat pernah membaca suatu tausiyah singkat Aa’ Gym dari sebuah blog,

ANGGAPAN ORANG LAIN ITU SAMA SEKALI TIDAK MENAMBAH MAUPUN MENGURANGI KEMULIAAN KITA

Kalo orang nganggep kita alim, emang kita tambah alim gitu ? belum tentu juga amalan kita diterima..

Kalo orang nganggep kita pinter, emang kepinteran kita nambah yak ?

Pun kalo kita dianggep bodoh, IQ kite tetep segitu-gitu aja kan kagak berkurang ?

Kalo kita dianggep kaya, miskin, ganteng, bodong, mantap, apapun lah ya..kagak ada ngaruh-ngaruhnya kan ma kite ?


Cihui ! Dan akhirnya dia lebih tenang dan melanjutkan tugasnya kembali. Setidaknya untuk beberapa hal yang memang dia benar-benar tidak tahu dia dengan lantang menjawab, “Tidak tahu namun dalam kunci jawaban dari panitia…” Dia sudah tidak malu lagi mengungkapkan hal itu karena dia yakin anggapan Allah terhadap dia pas dihisab jauh lebih pantes dipikirin daripada cuma kelihatan sok ganteng atau sok alim bentar doang..

Alhamdulillah…Saipul pun sadar. Lalu kamu Big ? :)

Untukmu (calon) Permata Hatiku

Tanggal 1 April 2009 di salah satu situs favorit saya, EraMuslim, saya menemukan tulisan yang tak henti-hentinya membuat saya senyum-senyum sendiri.

Yak, surat ini ditujukan untuk semua laki-laki yang tak sabar untuk menantikan sosok mungil itu yang akan menghibur kita setiap saat, membuat kita tertawa melihat tingkah polahnya, dan tentu saja dapat menjadi sarana kita untuk mencapai surga-Nya ! Silahkan menikmati. :)

***

Surat Untuk Calon Anakku

oleh Malik Zahri Senin, 30/03/2009 14:19 WIB


Teruntuk calon anakku
Yang masih tinggal di antara tulang sulbi dan tulang dadaku


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana kabarmu, Nak? Semoga Ananda sehat wal afiat di alam sana.
Ayahanda sengaja menulis surat ini khusus untukmu.
Meski Ayahanda tahu, kau belum bisa membaca dan membalas surat ini
Karena di sana memang tidak ada sekolah.
Namun, Ayahanda yakin kau memahaminya
Karena kita satu jiwa
Karena kau masih menyatu dalam tubuhku
Dan terutama,
Karena kau pasti cerdas seperti Ayahanda …. 
:)

Nak !
Ayahanda sangat bergembira mendengar sabda Sang Baginda Rasul,
Tentang doa anak shaleh yang pahalanya tak terputus, bahkan sesudah orang tuanya wafat
Ayahanda tiba-tiba tersadar, sabda tersebut menuntut Ayahanda melakukan dua hal:
Menjadi anak shaleh dan menjadikan Ananda sebagai anak yang shaleh pula

Nak!
Ayahanda sedang berusaha menjadi anak shaleh untuk kakek dan nenekmu
Sulit memang, karena tiada amal ayahanda yang menandingi jasa mereka
Tapi Ayahanda akan terus berusaha
Tunaikan titah Baginda

Ayahanda pun berharap
Kau seperti itu untuk ayahbundamu kelak
Mencintai, menaati dan menghormati
Ibundamu ….. Ibundamu…… Ibundamu
juga Ayahandamu ini
Itulah mimpi Ayahanda
Sebagaimana mimpi menjadikan rumah kita nanti bagaikan syurga
Supaya syurga benar-benar menjadi rumah kita

Tapi, Ayahanda merasa malu
Ketika mendengar Khalifah kedua menyatakan
Bahwa hak seorang anak dari ayahnya setidaknya tiga hal:
Dipilihkan ibunda yang baik, Diberi nama yang baik serta diajarkan Al Qur’an.
Malu … 
Karena belum mempersiapkan diri
Untuk menunaikan hakmu

Nak!
Kini Ayahanda sedang belajar memperdalam Al Qur’an
Agar kelak bisa mengajarimu A… Ba… Tsa
Agar kaupun menjadi Qur’an berjalan
Yang menerangi mayapada

O ya!
Ayahanda juga sengaja membeli buku tentang nama-nama mulia
Dengannya, Ayahanda sudah menyiapkan selaksa nama indah untukmu
Agar kau tumbuh perkasa
Dinaungi nama mulia
Yang ia adalah doa

Yang membuat Ayahanda bingung,
Bagaimana menunaikan hak pertama
yang harus ditunaikan ketika Ananda belum melihat dunia
Karena Ayahanda tidak tahu
Apa kriteriamu tentang seorang ibu yang baik?
Ayahanda juga tidak tahu
Apakah kita memiliki selera yang sama…  ? 
:)

Tapi, Ayahanda yakin kau sepakat dengan satu kriteria
Bahwa calon ibumu nanti tidak boleh seorang yang shaleh
Melainkan harus seorang Shalehah

Karena jika kau memiliki Ibu yang Shaleh,
Sepertimu, Ayahandapun tak kan kuat menahan tawa
Melihat jenggot ibumu
Yang gagah jelita … 
:)

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Yang mencintaimu karena-Nya
Calon Ayahandamu

***


Waaah ! Jadi gak sabar buat mencet idung nya.. :D

Mari buat yang sudah merasa cukup berumur dan cukup mampu silahkan ditunaikan kewajibannya ! Yang sedang menjalin kasih dengan lain jenis yang sering disebut pacaran, apa gak gemes untuk melihat makhluk yang satu itu ? So disarankan untuk segera membawanya ke dalam format yang lebih baik. :)

Buat yang masih belum siap namun da kebelet, mari kita sama-sama menjaga hati. Bila perasaan itu telah melanda diri ini, cukup rasakan keindahannya, bersabarlah hingga kuncup bunga indah itu mulai bermekaran, suatu saat nanti..Ya, saat kita telah mampu membawanya ke dalam format yang lebih bersih dengan ikatan sah yang sesuai dengan syari’at.. 

Wallahu a’lam.

Hey Dad Look At Me

1 Syawal 1433 H. Hari Lebaran kesekian kalinya tanpa Bapak sejak beliau meninggalkan kami 8 tahun silam. Memang akan selalu ada rasa yang hilang.

Teringat tulisan yang pernah dibuat dua tahun lalu ini. Ditulis dengan rasa rindu yang sama, beserta do’a yang insya Allah tak akan pernah putus mengalir untuknya..

***

Hey Dad Look At Me


Hey dad look at me.

Think back and talk to me.
Did I grow up according to plan..

(Perfect – Simple Plan)


Entah kenapa tiba-tiba teringat dengan lagu ini. Ini salah satu lagu favorit saya ketika saya nge-band dulu, lagu singkat dari Simple Plan. Dan ini salah satu lagu yang sukses membuat saya merenung hingga menitikkan air mata.  Hehe, ni kali ini izin posting yang agak ‘dangdut’ ya.

Ayah, apakah aku sesuai tumbuh sesuai dengan yang kau inginkan ?

Coba saya bisa tanya sekarang, sayang sekarang beliau telah tiada. Kenapa ya dulu pas beliau masih ada saya masih gak bener ?

Pas beliau sedang jalan sangaaat pelan karena merintih kesakitan namun beliau selalu berusaha untuk menahan dan tidak ingin menunjukkannya dihadapan keluarganya, disitu ada anak yang malah suka membentaknya dan berkata, "Pak..Lambat banget seh, cepetan dikit po’o..", sambil menariknya dengan sama sekali tidak lembut.

Atau ketika beliau terbaring sakit di rumah sakit, lagi-lagi beliau tidak pernah terlihat seperti orang sakit, dan si anak lagi-lagi ngomong, "Weslah Pak (red : sudahlah pak)..sudah ya Pak, besok pulang aja, disini ya gak ngapa-ngapain, ngabis-ngabisin duit aja Pak.."

Atau di hari terakhir yang masih si anak ingat betul, ketika itu hujan cukup deras, tiba-tiba ada kabar dari tetangga katanya Bapak telpon –karena di rumah kami tidak ada telpon- katanya beliau pengen anaknya ngejenguknya saat itu juga, dan seharusnya pula memang saat itu giliran si anak yang ngejaga si Bapak. Dan tahukah si anak lagi-lagi karena sedang asiknya nonton film kartun kesukaannya sama sekali tidak bergeming dan hanya menimpali permintaan ibunya untuk datang, "Udahlah Bu, masih hujan gini, besok ajalah ketemu Bapak..Gak apa-apa kok, Bapak bisalah sendiri.."

Dan, seperti di sinetron-sinetron, besok paginya si Bapak dipanggil sama Allah dan si anak nih yang gak tau diri akhirnya cuma bisa nangis..nangis sepanjang di rumah sakit, nangis sepanjang di rumah ketika memandikan, dan lagi-lagi hanya bisa menangis ketika menguburkan..

6 tahun yang lalu, kenangan itu masih tersimpan dengan baik, dan selalu terbuka setiap saat ketika lagu ini terputar.

He is the best dad that I ever had and always..

Mengajar berinfak dengan selalu memberikan uang limaribuan kepada si anak agar ia yang memasukkannya ke kotak infak, mengajarkan untuk menghafal Qur’an dengan meminta tolong si anak untuk mendengarkan hafalannya dengan membawa juz ‘amma,  mengajarkan kesabaran dengan selalu bersabar ketika si anak bertanya tiada henti kepadanya. Ia juga selalu bisa memasang suatu alat hanya dengan membaca petunjuknya, ia juga selalu bisa membelikan hadiah walaupun sebuah boneka kecil pada saat ulang tahun anaknya walaupun sedang tidak ada uang sama sekali.

Well, jadi ayah itu ajaib ya ? Mungkin ini juga harus jadi tes buat temen-temen yang mau pada nikah, uda siap jadi ayah yang kayak begini belum..

Oalah Pak..pak..anakmu cuma jadi kayak gini aja. IP juga gak nyampe 3.5, belajarnya juga gak pernah bener, jarang pulang lagi ke Surabaya, gak pernah bisa nerusin kebaikan-kebaikan Bapak..

Ingin sekali mengucapkan ini,

"Hehe..Pak, jadi gimana Pak, anakmu ini uda sesuai dengan rencana belom sesuai dengan pas rencana mau dibikin ?? hehe."

"Hehe..Maaf Pak, Big gak bisa jadi anak yang baik, yang bisa dibanggakan, yang bisa jadi contoh buat keluarga.."

"Hehe..Bapak Ahmad Zulkifli, Allah Maha Tau Pak, dan Bapak itu keren banget..keren banget." :’)

NB : Buat yang masih punya Bapak, kudu berbakti yang bener ya !

other news is designed by manasto jones, powered by tumblr and best viewed with safari.